Jalan Yos Sudarso, Pelabuhan Panjang – Bandar Lampung 35241
(+62-821) 8308 9999

Bea Cukai Lampung Konsisten Jaga Harga Transaksi Produk Hasil Tembakau

Bandar Lampung, 8-11 September 2020. Bea Cukai Lampung kembali melanjutkan kegiatan pemantauan terhadap harga transaksi pasar (HTP) produk hasil tembakau. Pemantauan kali ini dilaksasanakan di tiga kecamatan yaitu Pagelaran (Kabupaten Pringsewu), Way Khilau (Pesawaran) dan Ulubelu (Tanggamus) yang bertujuan untuk menjaga harga transaksi pasar atas Produk Hasil Tembakau agar tetap stabil.


Pemantauan dilakukan dengan mengunjungi toko-toko eceran untuk memantau langsung bagaimana kondisi terkini Harga Transaksi Pasar yang berada di lingkungan kecamatan yang dituju. Petugas Bea Cukai melakukan pendataan atas rokok yang dijual di etalase toko, di antaranya Merek, Nama Produsen Rokok, Harga Jual Eceran (HJE), Tarif pada pita cukai, serta harga jual di toko tersebut. Tidak hanya itu, petugas juga melakukan sosialisasi terkait ketentuan cukai produk hasil tembakau.


Dalam sosialisasinya, Petugas Bea Cukai menjelaskan terkait ciri-ciri rokok ilegal, beserta dampak yang akan terjadi apabila pedagang menjual rokok ilegal . Ciri-ciri rokok ilegal antara lain kemasannya tidak dilekati pita cukai, menggunakan pita cukai bekas, menggunakan pita cukai palsu, atau menggunakan pita cukai salah personalisasi/salah peruntukan. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam memerangi peredaran rokok ilegal yang berbahaya dari segi kesehatan maupun perekonomian.


Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan dapat meminimalisir ketimpangan harga antara HJE yang telah ditentukan dengan HTP yang ditetapkan oleh pedagang. Pasalnya, ketimpangan tersebut dapat menyebabkan ketidakseimbangan perekonomian terkait perdagangan produk hasil tembakau. Di samping itu, sosialisasi dari Petugas Bea Cukai terkait rokok ilegal diharapkan dapat mengurangi peredarannya, karena rokok dengan pita cukai ilegal tidak hanya berbahaya dikonsumsi tetapi juga merugikan negara dan mengancam industri hasil tembakau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *